bintang di langit, bulan dan matahari
seandainya kalian bernyawa
katakan di mana gajahnya?
karena yang kulihat hanya wajahnya
yang memenuhi setiap ruang di hatiku
gaya nya centil seperti kerlipan kalian para bintang
senyumnya indah seindah lengkungmu hai bulan
dan tolong katakan pada matahari
kehadirannya lebih hangat dari pada sinarmu matahari
kurasa aku telah terjatuh lagi...
kurasa aku telah terjatuh lagi...
Label: cinta monyet
Cinta "Tai Kucing"

Kata orang cinta itu bisa bikin tai kucing rasa coklat, bisa bikin preman jadi trantib, bisa bikin sapi jadi monyet
*lebay dah… ~___~*
Bikin kita jadi orang lainlah pokoknya. Tapi benarkah bikin kita gak jadi diri kita yang sebenarnya? Atau mungkin malah itu diri kita sebenarnya? Diri kita sebenarnya ketika kita lagi jatuh cinta.
Gw punya temen kuliah yang sangat pintar dan berprestasi dalam mata kuliah ngomong jorok. Untuk menghindarkan gw dari marabahaya, kita sebut saja namanya Henus a.k.a Hendra Nusally.
Suatu hari gw, Henus, dan temen2 lainnya lagi pergi ke Tunjungan Plaza Surabaya. Ditengah jalan tiba2 kita ketemu sama gebetannya di Friendster, kita sebut saja namanya bunga.
Apa yang terjadi dengan henus? Pemandangan yang gw liat, seorang Henus berdiri dengan sekali2 tertunduk, sekali2 tersenyum, kedua tangan dibelakang dan hanya 2 kata yang mendominasi pembicaraan mereka,
“hahahaha…”
dan
“iya…”.
Udah kayak pak RT yang lagi pidato sambil kebelet nahan Eek, beberapa menit kedepan saat itu, anjing, babi, dkk dikandangin entah dimana.
Untuk pertama kalinya dalam hidup gw, gw ngeliat temen gw yang satu ini jinak.
Causal Factor : si Bunga tentu saja.
Cinta mampu menculik temen gw yang beringas itu entah kemana.
Dilain cerita, liburan kemaren gw habiskan dengan memandangi birunya lautan yang kereeeennnn bangetttt!
Bentangan laut biru yang luas nan tentram itu mampu menarik keluar sisi melankolis gw dan membuat gw memikirkan hal-hal aneh, like "was" love in my live. Ya, masih tentang cinta koq.
Hal yang membawa gw pada suatu kisah tentang seorang kodok yang berandai-andai untuk menjadi seorang pangeran demi mengimbangi sang princess.
Untung tak dapat di raih, malang itu rumahnya si nita… *ada yang tau siapa nita??? n___n*
Kisah pangeran kodok cuman ada di dongeng aja, realitanya… cinta aja gak akan pernah cukup untuk menyulap si kodok menjadi seorang pangeran tampan.
Kisah ini pun berakhir tragis.
Pergilah sang kodok bermain hujan sampe nyasar dipantai. Dan bertemulah dia dengan cewe pantai yang bawaannya santai kayak di pantai, yang kerjaannya gitaraaaan aja tiap hari.
Dengan “kepolosannya”, dia menemukan kenyamanan dengan si cewe pantai yang santai kayak di pantai ini. Dia pikir this is the right one.
Benarkah?
Ternyata si kodok salah lagi. It ended just like it never begun.
Hehehehe
Udah kayak dongeng sebelum tidur aja.
Ya… ya… so sad to tell it, but I’m that frog.
Kalo kata orang cinta itu seperti dark chocolate, pait… tapi gak sedikit orang yang menyukainya.
Aneh yah? Kalo emang gak enak, kenapa orang masih tetap menyukainya?
Kalo emang sakit, kenapa mereka menikmatinya?
Tai lah… :p
Eniwei, menurut gw cinta itu lebih mirip kayak tai kucing, dimanapun hal itu ditempatkan oleh si kucing, akan menyangkut kepentingan orang banyak.
Ada yang marah,
*orang yang gak sengaja nginjek tu tai, orang yang rumahnya di eek-in sama tu kucing -tai nih si kucing, berak sembarangan!-*
Ada yang sakit,
*yang gak sengaja ketelen tai nya si kucing*
Ada yang sedih,
*terharu waktu ngeliatin tu kucing lagi boker*
Tapi ada juga yang seneng,
*ya si kucing lah, secara udah lega lahir batin dia*
Yang bahagia,
*tetangga orang yang rumahnya di eek-in sama si kucing, “untung bukan rumah gw! fiuh...”*
Ada yang tertawa,
*orang yang ngeliat korban-korban “ranjau”-nya si kucing*
Ketika ada yang bahagia, di saat yang sama kita gak bisa menahan seseorang untuk bersedih.
Paradox yah?
Itulah cinta, dengan berbagai macam rasa dan aroma yang tercampur aduk, berbagai emosi dan kepentingan didalamnya, hal itulah yang memanusiakan kita, membuat manusia bisa merasakan menjadi manusia.
Salam C-I-N-T-A-T-A-I-K-U-C-I-N-G
"Ketika kita sampai di persimpangan jalan dan peta yang kita pegang berbeda, disitulah saatnya untuk saling mengucapkan salam perpisahan". -rikes-
Label: cinta monyet
